Sifat dan Karakteristik Beton Sebagai Bahan Bangunan LENGKAP

Sifat dan Karakteristik Beton Sebagai Bahan Bangunan

Sifat dan Karakteristik Beton Sebagai Bahan Bangunan

Karakteristik beton sebagai bahan bangunan itu menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia, 1971, beton untuk konstruksi beton bertulang dibagi dalam tiga kelas dan enam mutu standar. Beton kelas I adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan non-strukturil, dinyatakan dengan mutu beton B. Beton kelas II adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan strukturil secara umum, terdiri dari beton mutu: B1, K125, K175 dan K225. Beton kelas III adalah beton untuk pekerjaan- pekerjaan strukturil dimana dipakai mutu beton dengan kekuatan tekan karakteristik yang lebih tinggi dari 225 kg/cm2. Kelas dan mutu beton standar tersebut, tercantum dalam Tabel 2.11. berikut.

Tabel 2.11. Kelas dan mutu beton standar.

 Kelas dan mutu beton standar.

Sumber: Peraturan Beton Bertulang Indonesia, 1971

b.        Kuat Tekan Beton

Kekuatan tekan beton adalah kemampuan beton untuk menerima gaya tekan per satuan luas, dan dinyatakan dengan Mpa atau N/mm2 atau kg/cm2. Walaupun dalam beton terdapat tegangan tarik yang sangat kecil, diasumsikan bahwa semua tegangan tekan didukung oleh beton tersebut. Penentuan kuat tekan dapat dilakukan dengan alat uji tekan dan benda uji berbentuk silinder atau kubus pada umur benda uji 28 hari.

Kuat tekan beton ditetapkan oleh perencana struktur untuk dipakai dalam perencanaan struktur beton. Untuk semua mutu beton selain B dan B1, komposisi campuran beton harus direncanakan atau dipilih sedemikian rupa hingga menghasilkan kekuatan tekan karakteristik (s’bk) yang disyaratkan untuk mutu beton yang bersangkutan. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia nomor 03-2847-2002, beton harus dirancang sedemikian hingga menghasilkan kuat tekan sesuai dengan aturan-aturan dalam tata cara tersebut dan tidak boleh kurang daripada 17,5 Mpa.

Baca Juga  Dekorasi Ruang Tamu Minimalis ini Akan Membuat Tamu Betah

 Alat uji tekan

Gambar 2.12. Alat uji tekan

 

c.        Faktor Air Semen

Faktor air semen (FAS) adalah perbandingan antara berat air dan berat semen. Dengan FAS senilai 0,40 telah cukup untuk mempengaruhi seluruh semen berhidrasi membentuk batuan yang keras. FAS ditentukan dengan rumus:

 

berat air F.A.S = ——————

berat semen

 

Misalkan:

  • Ditentukan F.A.S = 0,40;
  • Semen yang digunakan beratnya = 350 kg/m3;
  • Maka banyaknya air = 350 x 0,40 = 140 l/m3.

 

FAS yang rendah (kadar air sedikit) menyebabkan air di antara bagian-bagian semen sedikit, sehingga jarak antara butiran-butiran semen pendek. Akibatnya batuan-semen lebih cepat mencapai kepadatan dan kekuatan awal yang lebih tinggi, sehingga kekuatan akhir beton menjadi lebih rendah (berkurang). Demikian pula FAS yang lebih tinggi dapat menyebabkan beton lebih berpori- pori, sehingga kekuatan dan masa pakai beton berkurang.

Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, dalam pelaksanaan beton dengan campuran yang direncanakan, jumlah semen minimum dan nilai FAS maksimum yang dipakai harus disesuaikan dengan keadaan sekelilingnya. Dalam hal ini dianjurkan untuk memakai jumlah semen minimum dan nilai FAS maksimum yang tercantum dalam Tabel 2.12.

 

Tabel 2.12. Jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum.

 Jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum.

Sumber: Peraturan Beton Bertulang Indonesia, 1971

 

d.        Kekentalan Adukan Beton

Kekentalan (konsentrasi) adukan beton harus disesuaikan dengan cara pengankutan, cara pemadatan, jenis konstruksi dan kerapatan dari tulangan. Kekentalan tersebut tergantung pada jumlah dan jenis semen, nilai faktor air semen, jenis dan susunan butir agregat, serta penggunaan bahan-bahan pembantu. Pemeriksaan kekentalan adukan beton dapat dilakukan dengan slump. Batas-batas kekentalan yang dianjurkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 ditunjukkan pada Tabel 2.13.

Baca Juga  Dekorasi Kamar Tidur Sempit Agar Terlihat Luas

Tabel 2.13. Nilai-nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton.

Nilai-nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton

alat slum
alat slum

Gambar 2.13. Alat uji slump

 

e. Komposisi Adukan Beton

Bagi Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, buat beton kualitas Bo bisa dipakai tiap kombinasi yang umum dipakai buat pekerjaan- pekerjaan non- strukturril, dengan ketentuan kalau perbandingan jumlah pasir serta kerikil( atau

batu rusak) terhadap jumlah semen, tidak boleh melampaui 8: 1. Buat beton kualitas B1 serta K125 wajib dipakai kombinasi nominal semen, pasir serta kerikil( ataupun batu rusak) dalam perbandingan isi 1: 2: 3 ataupun 1: 1½: 2½. Buat beton kualitas K175 serta mutu- mutu yang lain yang lebih besar, wajib dipakai kombinasi beton yang direncanakan. Yang dimaksud dengan kombinasi beton yang direncanakan merupakan kombinasi yang bisa dibuktikan dengan informasi otentik dari pengalaman- pengalaman penerapan beton di waktu yang kemudian ataupun dengan informasi dari percobaan- percobaan pendahuluan, kalau kekuatan ciri yang disyaratkan bisa tercapai.

f. Rangkak serta Susut

Rangkak( creep) merupakan akumulasi regangan terhadap waktu akibat terdapatnya beban yang bekerja. Rangkak mencuat dengan keseriusan yang terus menjadi menurun sehabis selang waktu tertentu serta setelah itu berakhir sehabis sebagian tahun. Nilai rangkak buat beton kualitas besar hendak lebih kecil dibanding dengan beton kualitas rendah. Biasanya, rangkak tidak menyebabkan akibat langsung terhadap kekuatan struktur, namun hendak menyebabkan redistribusi tegangan pada beban yang bekerja serta setelah itu menyebabkan terbentuknya lendutan( deflection).

Baca Juga  Jenis dan Katagori Meja 

Susut merupakan pergantian volume yang tidak berhubungan dengan beban. Proses susut pada beton hendak memunculkan deformasi yang biasanya hendak bertabiat menaikkan deformasi rangkak.

Faktor- faktor yang pengaruhi besarnya rangkak serta susut:

  • Sifat bahan dasar beton( komposisi serta kehalusan semen, mutu adukan, serta isi mineral dalam agregat)
  • Rasio air terhadap jumlah semen
  • Suhu pada dikala pengerasan
  • Kelembaban nisbi pada dikala proses penggunaan
  • Umur beton pada dikala beban bekerja
  • Nilai slump
  • Lama pembebanan
  • Nilai tegangan
  • Nilai rasio permukaan komponen struktur