Materi Semiotika | Pengertian, Teori dan Analisis Budaya Visual

Apa itu Semiotika ? Menurut apa yang saya pelajadi di mata kuliah Budaya Visual, Pengertian umum tentang semiotika adalah ilmu yang mempelajari “tanda” dalam kehidupan manusia.

Apa sih tanda itu ?

Dalam semiotika, makna didefinisikan secara erat dengan “tanda”. Akan tetapi, hubungan antara makna dan tanda dikonseptualkan berbeda jika pendirian teoritis berbeda. 

pengertian Semiotika
pengertian Semiotika
– Teori Semiotika –

Untuk teori “tanda” ada 2 istilah yaitu :

  1. Semiologi
  2. Semiotik

Dua istilah ini mengacu pada hal yang sama hanya saja menunjukan perbedaan pada orientasi.

Perbedaan Semiologi dan Semiotika :

  1. Semiologi
    – Mengacu pada tradisi eropa
    – Di gagas Ferdinand de Saussure
    – Bersifat struktural
    – Orientasi akademis : Linguistik 
  2. Semiotik
    – Mengacu pada  tradisi amerika
    – Di gagas oleh Charles Sanders Peirce
    – Bersifat Pragmatis
    – Orientasi akademis : Filsafat

Linguistik memusatkan perhatian pada pertalian antar tanda dan pertalian itu dianggap unsur pembentuk makna.

Filsafat mempersoalkan sifat dan hakekat tanda dalam kaitanya dengan keseluruhan realitas sebagai permasalahan teori pengetahuan.

Saussure: Organisasi Tanda Berdasarkan keterangan dari Saussure, terdapat dua teknik pengoganisasian tanda ke dalam kode, yaitu:

  • Paradigma: Paradigma ialah “sekumpulan tanda yang dari dalamnya dipilih satu guna dipergunakan”. Contoh: kata-kata, perubahan teknik pengambilan gambar pada iklan (cut, fade dissolve, dll). …. Di mana ada opsi di situ terdapat makna, arti yang anda pilih ditentukan oleh arti yang tidak anda pilih …
  • Sintagma: Sintagma ialah “Pesan yang di bina dari paduan firasat yang dipilih”. Contoh: Pakaian …sintagma opsi dari topi, dasi, baju, celana, kaos kaki, dll.
Semiotika Roland Barthes Semiologi (atau semiotika) Roland Barthes

mengacu pada Saussure dengan menginvestigasi hubungan antara penanda dan petanda pada suatu tanda. Hubungan penanda dan petanda ini bukanlah keserupaan (equality), namun ekuivalen. Bukannya yang satu lantas membawa pada yang lain, namun korelasilah yang membulatkan keduanya. Barthes pun melihat aspek beda dari penandaan yakni “mitos” yang menandai sebuah masyarakat. “Mitos” menurut keterangan dari Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi sesudah terbentuk sistem tanda-penanda-petanda, tanda itu akan menjadi penanda baru yang lantas mempunyai petanda kedua dan menyusun tanda baru

Mitos dan ideologi . Mitos merupakan suatu jenis sistem semiotika tingkat 2. Teori mitos ini dikembangkan oleh Barthes untuk mengerjakan kritik atas ideologi kebiasaan massa (atau kebiasaan media). Niat ini anda baca dalam pendahuluan (1970) dari bukunya Mythologies (1957): “Buku ini memiliki latar belakang teoretis ganda: dari satu sisi kritik ideologi atas bahasa kebiasaan massa, dan dari segi lain, usaha kesatu untuk meneliti secara semiotik teknik kerja (mechanics) bahasa kebiasaan massa.” Dibagi menjadi dua bagian, unsur kesatu (“Mythologies”, yang lantas menjadi judul semua buku) mengandung dua puluh delapan tulisan tentang mitos-mitos canggih sebagaimana ditemukan dalam media massa, dan unsur kedua (“Myth Today’) adalahsebuah upaya teoretisasi mitos canggih dengan memakai pendekatan semiotika Saussurean. Apa hubungan teori mitos dan kritik ideologi? Inilah pertanyaan sentral dalam kitab ini. “Mitologi menjadi unsur dari semiotika sejauh mitologi adalahilmu formal,” kata Barthes, “dan menjadi unsur ideologi sejauh mitologi mencantol ilmu sejarah, yakni mempelajari ide-ide-dalambentuk (ideas-in-form).” Dengan pengertian ini, mitologi adalahbidang yang dapat dipelajari baik oleh semiotika atau ideologi. Dengan pengertian ini pula Barthes mengindikasikan bahwa semiotika memang suatu pendekatan formal (cenderung sinkronis); bakal tetapi saat semiotika digabungkan dengan ideologi, kita dapat mendapatkan suatu pendekatan sinkronis-diakronis mengenai ideologi, sebab ideologi tidak jarang kali bersangkutan dengan masyarakat tertentu.
Tatanan

READ  Pengertian Arsitektur Futuristik dan Contoh Bangunannya

Budaya media.

Sebagai bidang penelitian, Barthes memilih kebiasaan media. Langkah Barthes ini adalah sebuah rintisan urgen dalam pertumbuhan kajian media. Dengan mengusung media massa sebagai kajian, ia mengecek bentuk-bentuk mitos yang anda temukan dalam media massa dan muatan ideologis di dalamnya. Ini berarti bahwa kajian Barthes adalahsebuah kritik atas ideologi kebiasaan media dengan memakai semiotika sebagai pendekatannya. Kalau Barthes tidak jarang disebut sebagai orang yang mengembangkan semiotika mengenai wacana (semiology of discourse) atau semiotika konotasi (semiology of connotation), di sini kita menyaksikan Barthes pun mengembangkan semiotika mengenai ideologi atau semiotika mengenai metabahasa. Untuk tersebut dia mengerjakan analisis atas sekian banyak produk kebiasaan massa dengan memusatkan sistem tanda di dalamnya dan ideologi yang dibawanya.

Produk kebiasaan massa ini mencakup gulat hingga stripetease, dari anggur Perancis hingga steak and chips, dari film Julius Caesar hingga The Lost Continent, dari mainan anak-anak sampai benak Albert Einstein, dari resep makanan yang dimuat dalam majalah Elle dan L’Epresso hingga pameran fotografi. Berdasarkan keterangan dari Barthes, sekian banyak contoh produk kebiasaan massa ini telah membuat bahasa atau perangkat komunikasi yang ia sebut mitos. Contoh-contoh itu tidak lain ialah mitosmitos orang zaman kini yang diproduksi lewat mythological treasure laksana majalah, televisi, film, dan pusat-pusat pertunjukan.

pengertian Semiotika contoh
pengertian Semiotika contoh

Kritik kebiasaan modern. Agar pendekatan kajian media bisa benar-benarsinkronisdiakronis atau semiotik-ideologis, orang mesti memilih masyarakat tertentu. Untuk tersebut Barthes memilih masyarakat Perancis pada tahun 1950-an, saat kitab ini disiapkan. Berbicara mengenai kritik ideologi pada periode ini, orang tidak dapat melepaskan diri dari kritik ideologi Marxis atas ideologi borjuis. Hal serupa pun tidak bisa terlepas dari kerangka pikir dan teoretis Barthes. Seperti akan anda lihat, ditinjau dari pertumbuhan kritik ideologi, apa yang dilaksanakan Barthes adalahkontinuitas dari apa yang dilaksanakan Marx. Secara lebih khusus, dia paling dekat dengan cita-cita Althusser. Dia mengerjakan apa yang belum dilaksanakan oleh Althusser.

READ  Mengenal Jenis Kayu Olahan dan Kegunaannya Di Indonesia

Relevansi. Kritik ideologi atas kebiasaan media mesti anda tempatkan pada kritik atas kebiasaan media pada umumnya. Barthes sekitar ini belum “keras” mengerjakan kritik ini. Dia baru meneliti proses signification dalam kebiasaan media. Sebagai seorang kritikus, Barthes tidak serta-merta menampik begitu saja kebiasaan tersebut melainkan malah memeriksa teknik kerja sistem tanda yang terdapat di dalamnya. Analisisnya diarahkan supaya kita lebih sensitif bakal apa yang terjadi dalam kebiasaan kita, di mana komunikasi antarkelompok dan teknik kita memandang diri anda sendiri, paling ditentukan oleh mitosmitos tersebut. Seperti akan anda lihat, mitos tidak dapat ditentang secara frontal. Kalau urusan ini dilakukan, anda akan (h.101) menjadi mangsa mitos. Sebaliknya, mitos mesti ditentang dengan mitos baru. Mitos baru ini diciptakan menurut mitos-mitos yang telah ada. Inilah komunikasi kreatif yang diidealkan Barthes.

Agenda. Bagi mengenal pendekatan gabungan (semiotik-ideologis, sinkronisdiakronis) yang dikemukakan Barthes, anda akan lebih memfokuskan perhatian pada aspek yang kesatu, yakni semiotik atau sinkronis. Meskipun demikian, kita pun akan membicarakan aspek yang kedua, karena bila tidak, aspek yang kesatu tidak cukup berarti. Untuk tersebut kesatu-tama anda akan memperdalam sejumlah konsep semiotika yang akan tidak sedikit dipakai dalam analisis semiotik dan sejumlah konsep baru yang dibuat Barthes guna kepentingan teorinya. Kemudian disusul ulasan tentang faedah dan ciri-ciri mitos.

Pada unsur ketiga artikel ini anda akan menyaksikan unsur-unsur urgen dan formalitas yang mesti dilaksanakan dalam suatu analisis mitos secara semiotik. Pada unsur keempat anda akan menyaksikan sebuah kritik ideologi yang dilaksanakan dengan pendekatan semiotik. Kita masih bakal menyelipkan satu kupasan tentang hubungan usulan Barthes dan Althusser mengenai ideologi dengan tujuan menyaksikan kaitan salah satu mereka dalam pertumbuhan kritik ideologi. Pada unsur ini kita sebetulnya melihat tidak sedikit hal unik untuk dibahas; akan namun tidak mungkin dilaksanakan di sini sebab akan mengolah tujuan artikel ini dibuat. Barthes mengakui bahwa tulisan-tulisannya hanya sesuai dibaca pada tahun 1950an sebab kondisi masyarakat yang melahirkan kebiasaan borjuis telah berubah dan kritik ideologi pun sudah merasakan perkernbangan pesat.

READ  Nirmana Tekstur Beserta Contohnya

Cara Barthes mengerjakan kritik atas kebiasaan massa memang tidak cukup tepat lagi akan namun keprihatinannya atas kebiasaan massa masih sesuai sampai sekarang.

  1. Mitos Mitos (berasal dari bahasa Yunani mutos, berarti cerita) seringkali kita pakai guna menunjuk kisah yang tidak benar, cerita produksi yang tidak memiliki kebenaran historis. Meskipun demikian, kisah semacam tersebut tetap dibutuhkan supaya manusia dapat mengetahui lingkungan dan dirinya. Mitos menjadi di antara tema kajian unik di lingkungan antropologi (seperti dirintis Levi-Strauss)’ dan filsafat kebiasaan (van Peursen). Ciri mitos (kisah yang tidak benar) dan kegunaannya (diperlukan untuk mengetahui lingkungan) berikut yang jajaki diteorisasikan oleh Barthes dengan memakai pendekatan semiotik. Dia mengejar bahwa orang canggih pun dikerumuni oleh tidak sedikit mitos; orang modern pun produsen dan konsumen mitos. Mitos-mitos ini tidak melulu kita dengar dari orang-orang tua dan buku-buku tentang kisah lama, tetapi kita temukan masing-masing hari di televisi, radio, pidato, dan sebagainya.
  2. Sistem semiotik Sebagai sistem semiotik, mitos bisa diuraikan ke dalam tiga unsur, yaitu: signifier, signified, dan sign. Untuk memisahkan istilah-istilah yang sudah digunakan dalam sistem semiotik tingkat kesatu, Barthes memakai istilah bertolak belakang untuk ketiga bagian itu, yaitu, form, concept,, dan signification Dengan kata lain, form sejajar dengan signifier, concept dengan signified, dan signification dengan sign. Pembedaan istiliah-istilah ini dimaksudkan tidak saja supaya anda tidak bingung, melainkan pun karena proses signfication dalam sistem semiotik tingkat kesatu dan tingkat dua tidak serupa sama. Kalau sistem kesatu ialah sistem linguistik, sistem kedua ialah sistem mitis yang memiliki keunikannya. Sistem kedua memang memungut model sistem kesatu, akan namun tidak seluruh prinsip yang berlaku pada sistem kesatu berlaku pada sistem kedua.