Klasifikasi Kayu Berdasarkan Mutu Kayu, Kekuatan Kayu dan Keawetan Kayu

Klasifikasi Kayu berdasarkan kelasnya yang ditinjau dari aspek fisik, mekanik dan keawetan. Secara fisik, ada klasifikasi kayu menurut tingkat kekerasan, dan bobot permukaan kayu. Sedangkan dari aspek mekanik, kayu diklasfikasikan menjadi 3 yaitu :

  1. Kasifikasi Kayu Berdasarkan Mutu nya
  2. Kasifikasi Kayu Berdasarkan Kekuatan Kayu
  3. Kasifikasi Kayu Berdasarkan Keawetan Kayu

Archizone.org Dalam sekian banyak  kondisi lingkungan dan teknik pemeliharaan. Klasifikasi/penggolongan kayu bisa ditinjau dari aspek fisik, mekanik dan keawetan. Secara fisik, ada klasifikasi kayu menurut tingkat kekerasan, dan mutu permukaan kayu. Sedangkan dari aspek mekanik, kayu diklasfikasikan menurut kekuatannya, dan aspek ketahanan kayu diklasifikasikan menurut umur/keawetan pemakaian dalam sekian banyak  kondisi lingkungan dan teknik pemeliharaan.
(baca juga : Fungsi Kayu pada Bangunan

Klasifikasi Kayu Berdasarkan Mutu, Kekuatan dan Keawetan Kayu

Klasifikasi kayu menurut kekerasan (Ariestadi, 2008), ada klasifikasi kayu empuk dan kayu keras. Kayu yang mempunyai berat jenis (BJ) tinggi/besar seringkali kayu keras. Demikian pula sebaliknya, kayu yang enteng termasuk kayu lunak.

Klasifikasi kayu menurut mutu, kekuatan, dan keawetan kayu serta pemakaiannya pada bangunan diterangkan sebagi berikut:

  1. Klasifikasi mutu kayu

    Klasifikasi Kayu berdasarkan Mutunya adalah penggolongan kayu secara visual berhubungan dengan kualitas muka kayu, seperti: cacat, pola serat, dan kelurusan batang, serta kadar air kayu. Berdasarkan keterangan dari Ariestadi (2008), ada 3 (tiga) macam bobot kayu dalam perdagangan, yaitu: bobot A, bobot B dan bobot C.

    Kayu bobot C ialah kayu yang tidak tergolong dalam kelompok kayu bobot A dan bobot B. Berdasarkan keterangan dari Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) 1961, kayu bobot A dan bobot B mesti mengisi syarat sebagai berikut:

    Syarat kayu bobot A:
    – Kayu mesti kering udara (kadar air ≤ 15%);
    – Besar mata kayu tidak melebihi 1/6 lebar muka kayu, atau tidak boleh lebih banyak dari 3,5 cm
    – Kayu jangan berisi kayu gubal (wanvlak) yang lebih banyak dari 1/10 lebar muka kayu;
    – Miring arah serat Tangen maksimum 1/10;
    – Retak arah radial tidak boleh lebih banyak dari 1/4 tebal kayu dan retak arah lingkaran tumbuh tidak boleh lebih banyak dari 1/5 tebal kayu.

    Syarat kayu bobot B:
    – Kayu kering udara dengan kadar air 15% – 30%;
    – Besar mata kayu tidak melebihi 1/4 lebar muka kayu, atau tidak boleh lebih banyak dari 5 cm;
    – Kayu jangan berisi kayu gubal (wanvlak) yang lebih banyak dari 1/10 lebar muka kayu;
    – Miring arah serat Tangen maksimum 1/7;
    – Retak arah radial tidak boleh lebih banyak dari 1/3 tebal kayu dan retak arah lingkaran tumbuh tidak boleh lebih banyak dari 1/4 tebal kayu.

  2. Klasifikasi Kayu Berdasarkan kekuatan kayu

    Klasifikasi kekuatan kayu didasarkan pada kekuatan elastis dan kekuatan tekan pada suasana kayu kering udara. Kekuatan elastis ditentukan menurut tegangan elastis maksimum yang diterima oleh kayu sampai putus (tegangan elastis mutlak). Sedangkan kekuatan tekan ditentukan menurut tegangan tekan maksimum yang diterima oleh kayu sampai pecah (tegangan desakan mutlak).

    Besarnya angka tegangan kayu ditetapkan dengan satuan kg/cm3. Biasanya semakin kuat sebuah jenis kayu semakin besar pula Berat Jenis (BJ)nya. Klasifikasi kayu di Indonesia menurut keterangan dari Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) tahun 1961 digolongkan ke dalam 5 (lima) ruang belajar kuat, yaitu ruang belajar kuat I, II, III, IV dan V. Besar tegangan dan berat jenis masing-masing ruang belajar kuat kayu diperlihatkan dalam Tabel 1.6.

    Tabel 1.6. Kelas powerful kayu menurut tegangan lentur, tegangan tekan, dan berat jenis.

    Kelas Kuat

    Tegangan Lentur Mutlak (kg/cm3)

    Tegangan Tekanan Mutlak (kg/cm3)

    Berat Jenis (BJ)
    I ≥ 1100 ≥ 650 ≥ 0,90
    II 1100 – 725 650 – 425 0,90 – 0,60
    III 725 – 500 425 – 300 0,60 – 0,40
    IV 500 – 360 300 – 215 0,40 – 0,30
    V ≤ 360 ≤ 215 ≤ 0,30
  3. Klasifikasi keawetan kayu

    Klasifikasi kayu berdasarkan keawetan kayu didasarkan pada keawetan kayu terhadap pengaruh kelembaban, iklim (air dan terik matahari), rayap dan serangga lain, serta perlakuan kayu dalam pemakaian sebagai konstruksi.

    Berdasarkan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (1961), keawetan kayu diklasifikasikan dalam 5 (lima) kelas, yaitu: kelas ketahanan I, II, III, IV, dan V. Lama pemakaian kayu pada konstruksi cocok dengan situasi lingkungan atau sifat pemakaian setiap kelas ketahanan kayu diperlihatkan pada Tabel 1.7.

    di bawah ini.Tabel 1.7. Kelas keawetan kayu menurut tegangan lentur, tegangan tekan, dan berat jenis.

    SIFAT PEMAKAIAN KELAS KEAWETAN
    I II III IV V
    Selalu berhubungan dengan tanah lembab. 8 th 5 th 3 th sangat pendek sangat pendek
    Hanya dipengaruhi cuaca, tetapi dijaga supaya tidak terendam air dan tidak kekurangan udara. 20 th 15 th 10 th beberapa tahun sangat pendek
    Di bawah atap, tidak berhubungan dengan tanah lembab dan tidak kekurangan udara. tidak terba- tas tidak terba- tas sangat lama beberapa tahun pendek
    Seperti di atas tetapi dipelihara dengan baik dan dicat dengan teratur. tidak

    terba- tas

    tidak

    terba- tas

    tidak

    terba- tas

    20 th 20 th
    Serangan rayap tanah. tidak jarang cepat sangat cepat sangat cepat
    Serangan bubuk kayu. tidak tidak hampir tidak tidak berarti sangat cepat

    Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini di website kami 🙂 semoga ilmu yang kami bagikan bermanfaat, jangan lupa komentar ada di bawah postingan ini 🙂

Baca Juga  Fungsi Kayu Pada Bangunan Sebagai Bahan Material Bangunan